IKLAN

Showing posts with label nu pekalongan. Show all posts
Showing posts with label nu pekalongan. Show all posts

Thursday, 16 August 2018

NU Pekalongan Siap Kelola Perguruan Tinggi Aswaja

NU Pekalongan Siap Kelola Perguruan Tinggi Aswaja


Pekalongan, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pekalongan sejak dua tahun terakhir ini dibuat sibuk mempersiapkan lembaga pendidikan tinggi berhaluan Ajaran Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Aswaja) sebagai tindak lanjut amanat Konferensi Cabang (Konfercab) tahun 2013.

Ada beberapa opsi pendirian lembaga pendidikan tinggi, yakni mendirian lembaga pendidikan tinggi baru berupa rintisan lembaga dari nol atau alih kelola lembaga pendidikan tinggi yang sudah berjalan.

Dari hasil konsultasi ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidinan Tinggi (Kemenristek Dikti) serta melihat moratorium Pemerintah tentang perguruan tinggi pada tahun 2017, akhirnya PCNU Kabupaten Pekalongan memilih opsi kedua yakni alih kelola lembaga pendidikan tinggi yang sudah ada untuk dikelola dan dikembangkan menjadi Universitas Nahdatul Ulama.

"Jika tidak ada moratorium tentang penirian pendidikan tinggi, PCNU  Kabupaten Pekalongan lebih memilih opsi pertama, yakni mendirikan pendidikan tinggi mulai dari nol," ujar Sekretaris PCNU Lukman Hakim.

Dikatakan, pilihan alih kelola pendidikan tinggi ternyata prosesnya memakan waktu yang cukup lama. Pasalnya, PCNU harus tahun detail lembaga yang akan dialih kelola seperti manajemen, kondisi mahasiswa, karyawan hingga dosen.

Namun demikian, pihak PCNU Kabupaten Pekalongan merasa beruntung karena lembaga pendidikan yang akan dialih kelola ialah milik warga nahdliyyin yakni Politeknik Batik (Polbat) Pusmanu yang bermarkas di Jalan Jenderal Sudirman 29 Pekalongan.

Setelah melalui proses yang cukup panjang yang dimulai sejak bulan Pebruari tahun 2017 kemarin, akhirnya Kemenristek Dikti mengeluarkan SK pengalihan pengeloaan Politeknik Pusmanu di Kabupaten Pekalongan dari Yayasan Al Utsmani kepada Perkumpulan Nahdatul Ulama dengan nomor : 636 / KPT / 1 / 2017.

Sejak Juli tahun 2017 penerimaan mahasiswa baru dibawah naungan PCNU dengan kampus sementara di Gedung PCNU Jalan Karangdowo Kedungwuni Kabupaten Pekalongan.

Polbat Pusmanu, adalah sebuah nama yang tak asing bagi masyarakat Pekalongan dan sekitarnya. Politeknik adalah institusi pendidikan tinggi yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan professional dibidang keahlian tertentu, sedangkan nama BATIK berasal dari Usaha Kerajinan Batik Tulis dan Cap sebagai budaya masyarakat Pekalongan. 

Polbat Pusmanu berdiri di bawah naungan Yayasan Al Utsmani Pekalongan. Nama Pusmanu singkatan dari Perguruan Tinggi Usaha Sosial Masyarakat bersama Nahdlatul Ulama. Politeknik Batik Pusmanu berdiri secara resmi di bawah Yayasan Al-Utsmani pada tanggal 12 Februari 2002 berdasarkan SK Yayasan Al-Utsmani Pekalongan Nomor : C.089/YYS.AL-UTSMANI/II/02. 

Latar belakang berdirinya Politeknik Batik Pusmanu Pekalongan ini muncul dari suatu keprihatinan H. Arifin Utsman sebagai seorang pengusaha dan sosok yang telah lama berkecimpung dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, melihat tingkat pengangguran yang terus meningkat, terlebih setelah menyaksikan adanya kesenjangan yang cukup tajam antara lulusan perguruan tinggi yang bergelar sarjana dengan kompetensi dan keahlian yang tidak relevan dengan bidang kerja yang tersedia.  

Polbat Pusmanu saat ini memiliki 3 (tiga) Program Studi yaitu Teknik Batik, Manajemen Bisnis Internasional, Kesekretariatan dan Administrasi Kantor, dan Akuntansi yang diajukan ke Dirjen Dikti dan disetujui sesuai dengan SK Nomor : 641/D2/2002 tanggal 09 April 2002. (Abdul Muiz/Kendi Setiawan)

kampus nu lakpesdam batang lakpesdam jawa tengah lakpesdam pekalongan nu jateng nu pekalongan

Wednesday, 15 August 2018

ngaji islam nusantara bersama : KH. Ahmad Baso

Ngaji islam nusantara bersama : KH. Ahmad Baso
Islam seperti air. Air bila ia masuk ke dalam gelas, ia akan berbentuk gelas. Bila ia masuk ke dalam teko, ia akan berbentuk teko. Begitu pula Islam. Ia akan menyesuaikan terhadap budaya dimana ia singgah. Islam tidak seperti balok padat yang tetap menjadi balok walau ditaruh di manapun.<>

Bagian pertama buku Islam Nusantara ini disajikan dengan model dialog antara seorang Kiai Afid dan santrinya. Tujuan penulisnya, Ahmad Baso, agar mudah dipahami oleh pembaca tentang apa pesan yang ingin disampaikannya. Tentang mengapa harus ada Islam Nusantara, bagaimana ia lahir, tentang silsilah dan sanadnya, dan metodologi Islam Nusantara.

Ahmad Baso mendefinisikan Islam Nusantara dengan “cara bermazhab secara qauli dan manhaji dalam beristinbath tentang Islam dari dalil-dalilnya yang disesuaikan dengan teritori, wilayah, kondisi alam, dan cara penduduk mengamalkan.” (halaman 21)

Nahdlatul Ulama (NU) sejak dulu telah merepresentasikan Islam rahmatan lil ‘alamin melalui kegiatan-kegiatan keagamaan yang mulanya berasal dari budaya setempat. Islam Nusantara, sebagaimana diterangkan dalam buku Islam Nusantara ini, bukanlah subyek yang pasif, yang asal menerima apa saja yang datang dari Arab. Melalui kegiatan tahlil, shalawatan, halal bi halal, dan sebagainya, Islam Nusatara membuktikan bahwa Islam bisa dikemas dengan cara yang buka Arab.

Islam terlahir di Arab, kemudian menyebar ke seluruh dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Setelah para penyebar Islam datang di Indonesia, mereka menyebarkannya dengan jalan perdamaian. Melalui jalan perdagangan, perkawinan, dan bukan dengan paksaan. Tidak seperti penyebaran Islam di daerah Eropa melalui penaklukan dan peperangan. 

Di masa Wali Songo pula, Islam tersebar dengan cara damai. Untuk menarik hati umat, Wali Songo lebih menampilkan sikap yang lemah lembut. Wali Songo selalu memanfaatkan budaya lokal sebagai sarana dakwah. Misalnya Sunan Kudus yang dengan arsitektur Menara Kudus dan pelarangan menyembelih sapi bisa membuat masyarakat Hindu bersimpati. Setelah mendapat perhatian dari orang-orang yang belum Islam, di situlah Wali Songo mudah dalam menjalankan dakwahnya.

Dalam kondisi sekarang, Islam tentu menghadapi masalah yang amat pelik. Di antaranya kisruh kekerasan dan jalan dakwah yang radikal. Kelompok-kelompok garis keras masih berkeliaran di muka bumi, terutama di Timur Tengah dengan nama -yang paling terkenal— ISIS. Cara dakwah yang sama sekali bertentangan dengan metode dakwah yang dipakai oleh Wali Songo ini justeru merusak citra Islam sendiri. 

Kemunculan kelompok Islam radikal di Indonesia mengganggu berjalannya Islam Nusantara yang dipegang teguh oleh umat muslim Indonesia. Banyak ijtihad ulama Islam Nusantara yang ternyata tidak ditemukan dalam kitab-kitab ulama klasik (salaf), apalagi dalam al-Qur’an dan Hadits. Bukan berarti ijthad ulama Nusantara meninggalkan dua asas Islam tersebut, bahkan bertentangan. Yang diambil oleh ulama Islam Nusantara adalah spirit Islam, bukan bentuk luar Islam itu sendiri. Maka, selama bentuk sebuah ibadah sulit diterapkan, budaya lokal yang akan mewadahinya.

Prinsip yang dipegang Islam Nusantara adalah prinsip al-muhafadhoh alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadid al ashlah, menjaga kesalehan yang dahulu dan mengambil hal baru yang lebih baik. Oleh karena itu, Islam Nusantara tidak menjadi kaku dan tetap mempunya ciri khas. Islam Nusantara tercermin dalam kehidupan di pondok pesantren, sebagai markas sesungguhnya Nahdlatul Ulama.

Jadi sudah seharusnya Islam menjadi air yang ketika ia menempati Nusantara, ia akan berbentuk sesuai wadahnya. Islam tidak boleh dipaksakan harus sesuai dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu, pada masa Rasul atau setelahnya. Karena Islam itu salih li kulli zaman wa makan, patut di segala waktu dan tempat. 

Buku ini menjadi penting karena menjelaskan bahwa Islam Indonesia mempunyai sejarahnnya sendiri. Sejarah yang sama sekali berbeda dengan sejarah Islam di Arab dan negara-negara lain. Dengan melihat apa yang terjadi pada masa Wali Songo, sebelumnya, bahkan setelahnya, kita akan memahami proses meluasnya Islam di Indonesia sehingga menjadi negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. ***


Judul : Islam Nusantara: Ijtihad Jenius & Ijma’ Ulama Nusantara, Jilid I
Penulis : Ahmad Baso
Cetaka : I, Juli 2015 
Tebal : xxiii + 370 hlm
Penerbit : Pustaka Afid Jakarta
Peresensi : Hilmi Abdillah, mahasiswa Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Islam seperti air. Air bila ia masuk ke dalam gelas, ia akan berbentuk gelas. Bila ia masuk ke dalam teko, ia akan berbentuk teko. Begitu pula Islam. Ia akan menyesuaikan terhadap budaya dimana ia singgah. Islam tidak seperti balok padat yang tetap menjadi balok walau ditaruh di manapun.<>

Bagian pertama buku Islam Nusantara ini disajikan dengan model dialog antara seorang Kiai Afid dan santrinya. Tujuan penulisnya, Ahmad Baso, agar mudah dipahami oleh pembaca tentang apa pesan yang ingin disampaikannya. Tentang mengapa harus ada Islam Nusantara, bagaimana ia lahir, tentang silsilah dan sanadnya, dan metodologi Islam Nusantara.

Ahmad Baso mendefinisikan Islam Nusantara dengan “cara bermazhab secara qauli dan manhaji dalam beristinbath tentang Islam dari dalil-dalilnya yang disesuaikan dengan teritori, wilayah, kondisi alam, dan cara penduduk mengamalkan.” (halaman 21)

Nahdlatul Ulama (NU) sejak dulu telah merepresentasikan Islam rahmatan lil ‘alamin melalui kegiatan-kegiatan keagamaan yang mulanya berasal dari budaya setempat. Islam Nusantara, sebagaimana diterangkan dalam buku Islam Nusantara ini, bukanlah subyek yang pasif, yang asal menerima apa saja yang datang dari Arab. Melalui kegiatan tahlil, shalawatan, halal bi halal, dan sebagainya, Islam Nusatara membuktikan bahwa Islam bisa dikemas dengan cara yang buka Arab.

Islam terlahir di Arab, kemudian menyebar ke seluruh dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Setelah para penyebar Islam datang di Indonesia, mereka menyebarkannya dengan jalan perdamaian. Melalui jalan perdagangan, perkawinan, dan bukan dengan paksaan. Tidak seperti penyebaran Islam di daerah Eropa melalui penaklukan dan peperangan. 

Di masa Wali Songo pula, Islam tersebar dengan cara damai. Untuk menarik hati umat, Wali Songo lebih menampilkan sikap yang lemah lembut. Wali Songo selalu memanfaatkan budaya lokal sebagai sarana dakwah. Misalnya Sunan Kudus yang dengan arsitektur Menara Kudus dan pelarangan menyembelih sapi bisa membuat masyarakat Hindu bersimpati. Setelah mendapat perhatian dari orang-orang yang belum Islam, di situlah Wali Songo mudah dalam menjalankan dakwahnya.

Dalam kondisi sekarang, Islam tentu menghadapi masalah yang amat pelik. Di antaranya kisruh kekerasan dan jalan dakwah yang radikal. Kelompok-kelompok garis keras masih berkeliaran di muka bumi, terutama di Timur Tengah dengan nama -yang paling terkenal— ISIS. Cara dakwah yang sama sekali bertentangan dengan metode dakwah yang dipakai oleh Wali Songo ini justeru merusak citra Islam sendiri. 

Kemunculan kelompok Islam radikal di Indonesia mengganggu berjalannya Islam Nusantara yang dipegang teguh oleh umat muslim Indonesia. Banyak ijtihad ulama Islam Nusantara yang ternyata tidak ditemukan dalam kitab-kitab ulama klasik (salaf), apalagi dalam al-Qur’an dan Hadits. Bukan berarti ijthad ulama Nusantara meninggalkan dua asas Islam tersebut, bahkan bertentangan. Yang diambil oleh ulama Islam Nusantara adalah spirit Islam, bukan bentuk luar Islam itu sendiri. Maka, selama bentuk sebuah ibadah sulit diterapkan, budaya lokal yang akan mewadahinya.

Prinsip yang dipegang Islam Nusantara adalah prinsip al-muhafadhoh alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadid al ashlah, menjaga kesalehan yang dahulu dan mengambil hal baru yang lebih baik. Oleh karena itu, Islam Nusantara tidak menjadi kaku dan tetap mempunya ciri khas. Islam Nusantara tercermin dalam kehidupan di pondok pesantren, sebagai markas sesungguhnya Nahdlatul Ulama.

Jadi sudah seharusnya Islam menjadi air yang ketika ia menempati Nusantara, ia akan berbentuk sesuai wadahnya. Islam tidak boleh dipaksakan harus sesuai dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu, pada masa Rasul atau setelahnya. Karena Islam itu salih li kulli zaman wa makan, patut di segala waktu dan tempat. 

Buku ini menjadi penting karena menjelaskan bahwa Islam Indonesia mempunyai sejarahnnya sendiri. Sejarah yang sama sekali berbeda dengan sejarah Islam di Arab dan negara-negara lain. Dengan melihat apa yang terjadi pada masa Wali Songo, sebelumnya, bahkan setelahnya, kita akan memahami proses meluasnya Islam di Indonesia sehingga menjadi negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. ***


Judul : Islam Nusantara: Ijtihad Jenius & Ijma’ Ulama Nusantara, Jilid I
Penulis : Ahmad Baso
Cetaka : I, Juli 2015 
Tebal : xxiii + 370 hlm
Penerbit : Pustaka Afid Jakarta
Peresensi : Hilmi Abdillah, mahasiswa Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang, Jawa Timur
ansor pekalongan banser pekalongan islam rahmatal lil alamin lakpesdam pekalongan ngaji bareng KH ahmad baso ngaji islam nusantara nu pekalongan

Gus Mus: Bersyukurlah Kita Menjadi Manusia

Pati, NU Online
KHA Musthofa Bisri (Gus Mus) dalam ceramahnya di Lapangan Sepakbola Tiwongso Sokopuluhan Pucakwangi Pati Jawa Tengah, Rabu (15/8) malam, mengajak kepada ribuan jamaah agar pandai bersyukur karena sudah diciptakan Allah swt menjadi manusia. 

Kiai kharismatik yang terkenal dengan taushiyah santainya itu menyebutkan, ada empat hal yang patut direnungkan manusia.

Pertama, bersyukur karena sudah diciptakan menjadi manusia. Karena banyak orang yang krisis syukur, terlalu mengabaikan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Seperti nikmat bernafas, kenikmatan yang diberikan Allah sangat banyak tapi terlewatkan oleh manusia. Sehingga ia lupa untuk bersyukur. 

"Nikmat menjadi manusia yang telah diberi akal pikiran dan dimuliakan oleh Allah. Kita bisa merasa, bisa berfikir, bisa mengekspresikan dengan sempurna," ucap kiai dari Leteh Rembang dengan nada khasnya yang kalem. 

Kedua, bersyukur karena Allah SWT mengangkat pemimpin Nabi Muhammad SAW sebagai panutan umat Islam. Nabi itu manusia yang mengerti manusia, manusia yang memanusiakan manusia. Sehingga Nabi Muhammad bisa mengerti dan memaklumi atas kondisi umatnya.

"Beliau seorang suri tauladan yang baik, mencontohkan terlebih dahulu setiap hal yang diperintahnya. Jangan terbalik, belum menjalankan sudah merintah," jelas Gus Mus diselingi guyonan. 

Ketiga, bersyukur menjadi orang Indonesia. Gus Mus menjelaskan jika tinggal di Indonesia lebih nikmat dibandingkan negara lain. Iklim di Indonesia lebih stabil, antara cuaca panas dan dingin itu berimbang. Berbeda jauh dengan negara-negara yang suhu derajat panasnya di atas rata-rata bahkan terbilang panas sekali. 

"Cuaca di luar negeri sangat ekstrim. Jika musim panas ya panas sekali, begitu juga saat musim dingin. Kita mestinya bersyukur ditakdirkan menjadi orang Indonesia, maka negara ini wajib kita jaga," paparnya. 

Keempat, bersyukur karena menjadi Warga Nahdlatul Ulama' (NU). Gus Mus menjelaskan, di Indonesia banyak ormas namun tidak sehebat dan sebesar NU. Karena, lanjutnya, NU dibentuk para kiai bukan untuk kepentingan organisasi namun untuk kepentingan seluruh umat manusia. 

"Kiai Hasyim Asy'ari membentuk organisasi NU itu dengan tujuan memberikan kemaslahatan kepada seluruh umat manusia. Maka wajar jika NU semakin hari semakin tumbuh subur. Bahkan saat ini Warga NU di Indonesia berjumlah sekitar 90 juta jiwa," pungkas Gus Mus. (Nur Rofi'atul Hasanah/Suhud Mas'ud/Muiz)
Gus Mus di Pati Jawa Tengah

Pati, NU Online
KHA Musthofa Bisri (Gus Mus) dalam ceramahnya di Lapangan Sepakbola Tiwongso Sokopuluhan Pucakwangi Pati Jawa Tengah, Rabu (15/8) malam, mengajak kepada ribuan jamaah agar pandai bersyukur karena sudah diciptakan Allah swt menjadi manusia. 

Kiai kharismatik yang terkenal dengan taushiyah santainya itu menyebutkan, ada empat hal yang patut direnungkan manusia.

Pertama, bersyukur karena sudah diciptakan menjadi manusia. Karena banyak orang yang krisis syukur, terlalu mengabaikan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Seperti nikmat bernafas, kenikmatan yang diberikan Allah sangat banyak tapi terlewatkan oleh manusia. Sehingga ia lupa untuk bersyukur. 

"Nikmat menjadi manusia yang telah diberi akal pikiran dan dimuliakan oleh Allah. Kita bisa merasa, bisa berfikir, bisa mengekspresikan dengan sempurna," ucap kiai dari Leteh Rembang dengan nada khasnya yang kalem. 

Kedua, bersyukur karena Allah SWT mengangkat pemimpin Nabi Muhammad SAW sebagai panutan umat Islam. Nabi itu manusia yang mengerti manusia, manusia yang memanusiakan manusia. Sehingga Nabi Muhammad bisa mengerti dan memaklumi atas kondisi umatnya.

"Beliau seorang suri tauladan yang baik, mencontohkan terlebih dahulu setiap hal yang diperintahnya. Jangan terbalik, belum menjalankan sudah merintah," jelas Gus Mus diselingi guyonan. 

Ketiga, bersyukur menjadi orang Indonesia. Gus Mus menjelaskan jika tinggal di Indonesia lebih nikmat dibandingkan negara lain. Iklim di Indonesia lebih stabil, antara cuaca panas dan dingin itu berimbang. Berbeda jauh dengan negara-negara yang suhu derajat panasnya di atas rata-rata bahkan terbilang panas sekali. 

"Cuaca di luar negeri sangat ekstrim. Jika musim panas ya panas sekali, begitu juga saat musim dingin. Kita mestinya bersyukur ditakdirkan menjadi orang Indonesia, maka negara ini wajib kita jaga," paparnya. 

Keempat, bersyukur karena menjadi Warga Nahdlatul Ulama' (NU). Gus Mus menjelaskan, di Indonesia banyak ormas namun tidak sehebat dan sebesar NU. Karena, lanjutnya, NU dibentuk para kiai bukan untuk kepentingan organisasi namun untuk kepentingan seluruh umat manusia. 

"Kiai Hasyim Asy'ari membentuk organisasi NU itu dengan tujuan memberikan kemaslahatan kepada seluruh umat manusia. Maka wajar jika NU semakin hari semakin tumbuh subur. Bahkan saat ini Warga NU di Indonesia berjumlah sekitar 90 juta jiwa," pungkas Gus Mus. (Nur Rofi'atul Hasanah/Suhud Mas'ud/Muiz)
gus mus islam nusantara lakpesdam pekalongan nu 2019 nu kota santri nu pekalongan pekalongan

Tuesday, 14 August 2018

Lakpesdam NU Tawarkan Wacana Agama Antikorupsi

Lakpesdam NU Tawarkan Wacana Agama Antikorupsi


Jakarta, NU Online
Lakpesdam NU membuka wacana keagamaan yang bernafas antikorupsi. Wacana keagamaan ini akan digelontorkan dalam diskusi dengan tajuk, “Meneguhkan Gerakan Agama Antikorupsi” di aula lantai delapan Gedung PBNU pada pukul 12.00-16-00, Kamis 22 November 2012.<>

Hal ini disampaikan oleh Abi S. Nugroho, seorang staf Kajian dan Penelitian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya, Lakpesdam NU kepada NU Online di lantai lima Gedung PBNU usia pembukaan diskusi terbatas forum media NU, Selasa (20/11) sore.

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah pembicara. Mereka menurut agendanya adalah H Asad Said Ali, wakil ketua umum PBNU, Marsudi Syuhud, Sekjen PBNU, Benny Susetyo, Sekjen Waligereja Indonesia, dan Wawan Wiratma, ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, Matakin.

“Wacana agama dengan semangat antikorupsi itu perlu digemakan agar menjadi kesadaran penuh di tengah masyarakat,” kata Abi.

Menurutnya, wacana keagamaan ini dimunculkan berdasarkan pengamatan Lakpesdam NU terhadap persoalan budaya korupsi yang telah mengakar di kalangan elit pemerintah. Wacana ini diharapkan menyebar luas ke segala lapisan masyarakat.

Budaya korupsi tidak hanya terjadi di kalangan elit pemerintah. Abi menambahkan bahwa perilaku budaya korupsi sudah merembes ke lapisan masyarakat. Praktik korupsi dengan aneka modusnya sudah masuk ke lapisan bawah masyarakat.

Wacana keagamaan ini dinilai strategis dalam memerangi korupsi. Karena, wacana ini akan digaungkan oleh para kiai, dai, dan para pemuka agama yang ada di Indonesia sebagai pihak terdepan dalam hubungan sosial, tutup staf staf Kajian dan Penelitian Lakpesdam NU.

Redaktur: Mukafi Niam
Penulis   : Alhafiz Kurniawan
islam nusantara lakpesdam agenda kegiatan lakpesdam nu lakpesdam pekalongan nu pekalongan ulama pekalongan

 

berikut ini beberapa buku referensi yang kami aanjurkan untuk dimiliki pemuda NU:

  • Copyright © LAKPESDAM PEKALONGAN™ is a registered trademark.
    Blogger Templates Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.